Stefy Tanor: CS Jokowi-nya Tomohon, “Kurang Bicara Tapi Banyak Bertindak”

Sebuah Pandangan Mengapa HARUS Caroll Senduk Pimpin Tomohon 2024 sd 2029

Oleh: Stefy Tanor SE.Ak, MM
(Pejuang Kota Tomohon)

TOMOHON, SULUTTEMPO.COM – Mengawali testimoni ini rasanya perlu disampaikan sebuah kutipan, ..”kebenaran tidak pernah kalah melawan kebatilan, kebenaran berakhir pada keabadian sementara kebatilan berakhir pada kehancuran, sayang kebenaran harus diperjuangkan dengan ketulusan..”

Dalam rangka memperjuangkan kebenaran inilah saya didorong untuk membuat kesaksian ini. Ya, kesaksian mengenai eksistensi Caroll Senduk selama menjalankan tugas sebagai Walikota Tomohon. Prinsipnya kita harus mampu mengatakan benar jika itu memang benar dan mengatakan salah atau bahkan salah terhadap sesuatu yang salah. Inilah premis dasar keilmuan atau sesuatu yang ilmiah harus jujur, objektif dan sistimatis dalam implementasinya.

Itulah sebabnya orang-orang penyanjung keilmuan sangat peka terhadap lingkungan sosial politiknya. Ketika ada kebijakan publik seorang pemimpin (termasuk Walikota) yang kurang tepat atau bahkan salah, langsung disambut dengan kritik yang cenderung keras yang menggelitik. Itulah yang saya lakukan selama berada di Kota Tomohon ini. Dalam anggaran beberapa tahun, 2 tahun saya menjadi antitesa dari Walikota Tomohon. Benar-benar menjadi “tukang kritik” yang bagi sebagian orang menilai sangat keras. Tentunya setiap kritik memiliki argumentasinya, baik menyangkut kepentingan rakyat maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berkenan dengan kepentingan rakyat kota Tomohon, tentunya kami sangat memahaminya karena tujuan kami memperjuangkan kecamatan Tomohon menjadi sebuah daerah otonom (kota Tomohon) adalah mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat. Atau rakyat harus benar-benar menikmati setiap hasil pembangunan dari Anggaran Negara. Itu sebabnya sebagai pejuang Kota Tomohon kami merasa bertanggung jawab terhadap rakyat kecamatan Tomohon yang kami “paksakan” menjadi rakyat Kota Tomohon melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon.

Deskripsi singkat diatas mengantarkan saya pada testimoni pertama

Testimoni I : Caroll Senduk sangat terbuka menerima kritik.

Era reformasi ketika digaungkan, kritik menjadi bagian yang sangat familiar dalam demokrasi. Yang terkadang menjadi kompas yang mengarah pada cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara Indonesia, sehingga rasanya demokrasi tanpa kritik adalah hambar. Demokrasi dialam reformasi menuntut keterbukaan, transparansi dan kejujuran dalam implementasi kebijakan publik dan pemanfaatan anggaran negara.
Ketika CS dikritik nampaknya dia sangat menerima dengan lapang dada dan sangat memahami bahwa kritik adalah bagian dari pengawasan publik yang sangat berguna dalam pembangunan di Kota Tomohon. Bahkan ketika saya kritik tentang tertundanya pembayaran gaji ASN disalah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah di Kota Tomohon, langsung ditanggapi CS. Saya ingat bertahan ketika kritikan tersebut dimuat di beberapa media dihari itu, pada hari itu juga respon cepat Sang Walikota tindaklanjuti disertai dengan penjelasan mengapa hal itu terjadi. Nampak sekali ketulusan CS dalam menerima dan memuji kritik. Ada rasa memiliki didalamnya atau jelas sekali sikap rasa memiliki atas tugas dan tanggung jawabnya sebagai otorisator anggaran dan pemimpin daerah. Bagi saya tindakan ini adalah sebuah ketulusan dalam melaksanakan tugas rakyat sebagai Walikota.

Dalam beberapa pertemuan dengan CS tampak sekali beliau sangat hati-hati dalam berbicara. sepertinya dia sangat mempertimbangkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dan dalam beberapa penghargaan/pidato CS tampak sekali bahwa beliau bukan orator ulung. Saya teringat Pak. Presiden kita, Jokowi ketika maju mencalonkan diri sebagai presiden RI ditahun 2014. Tidak fasih dalam berbicara tapi cekat dalam bertindak. Seorang pemimpin khas masa kini yang sangat dibutuhkan rakyat.

Kesaksian II: CS tidak pandai bicara tapi cekatan dalam bertindak. Barangkali bukan tanpa alasan dia menampilkan kekhasannya yang kurang jago berbicara, justru saya menilai dia berprinsip “kurang bicara tapi banyak bertindak”. Ya, tipe pemimpin seperti inilah yang sangat dibutuhkan. Lebih banyak mendengar keluhan rakyat dan responsif dalam menjawab keluhan dan kebutuhan rakyat. Bukankah presiden Jokowi yang dicintai rakyatnya memiliki tipikal seperti itu? Sehingga tidaklah berlebihan jika saya menyebut “CS Jokowi-nya Tomohon”.

Bahkan ada satu hal barangkali yang sengaja atau tidak sengaja antara Jokowi dan CS sangat mirip. Bahwa presiden yang paling banyak difitnah dalam sejarah Indonesia berbangsa dan bernegara adalah Jokowi. Demikian pula Walikota yang paling banyak fitnahan dalam sejarah Kota Tomohon adalah CS. Sehingga sampailah kita pada testimoni selanjutnya.

Testimoni III: CS adalah Walikota Tomohon yang paling sering difitnah dalam sejarah Kota Tomohon. Dapat dipahami bahwa banyaknya fitnahan terhadap CS yang datang dari lawan politik kesemuanya akumulasi dari berbagai penghargaan dan prestasi CS dalam memimpin kota Tomohon. Pribadi iri dan dengki dalam politik itu biasa. Justru semakin banyak fitnah yang diarah menandakan suksesnya CS memimpin kota Tomohon.

Tentunya CS bukanlah mahluk sempurna, sebagai manusia biasa tentunya ada kekurangannya. Bahkan dalam menjalankan tugas sebagai Walikota Tomohon hambatan politik yang “sangat berisik” baginya. Ketika CS harus memenuhi visi, misi dan programnya tetapi tidak diikuti oleh kekuatan politik di DPRD Kota Tomohon. Kita tahu bahwa anggota DPRD dari PDIP hanya 4 anggota. Sehingga banyak program beliau yang tersumbat di DPRD. Oleh kerena keinginan CS memenuhi setiap janji politiknya kepada rakyat Tomohon maka dalam Pemilu legislatif 2024 ia harus berjuang keras untuk menjadi single mayoritas di DPRD dengan 15 kursi anggota DPRD dari PDIP. Saya sangat yakin dengan kekuatan 15 kursi di DPRD kota, CS akan berhasil menjalankan visi, misi dan program pembangunan di Kota Tomohon 2024 sd 2029.

Selanjutnya dalam era kepemimpinan CS di kota Tomohon, gerakan kebangunan rohani sangat intensif dilaksanakan. Saya paham, bahwa ini adalah sebuah gerakan sebagaimana nawacita Jokowi, termasuk gerakan Revolusi Mental-nya Jokowi. Revolusi mental yang mencakup cara berpikir, cara bekerja (termasuk etos kerja) dan cara hidup bangsa Indonesia yang mengacuh pada nilai-nilai integritas dan gotong royong berdasarkan Pancasila. Sungguh menakjubkan kalau ada pemimpin yang mengandalkan Tuhan. CS sadar betul bahwa gerakan revolusi mental hanya dapat sukses jika kondisi aparatur negara dan rakyat Tomohon memiliki spiritualitas yang baik. Setiap tugas dan tanggung jawab baik sebagai aparat maupun sebagai rakyat akan selesai dengan baik jika mengandalkan Tuhan dan takut akan Tuhan.

Testimoni IV: CS Walikota yang paling inten laksanakan KKR, kebaktian kebangunan rohani di Kota Tomohon.

Bagi saya, gerakan spirituil seperti ini memang harus dilakukan. Segala program yang dicanangkan pasti akan berhasil jika ada nilai integritas didalamnya. Dan integritas seorang aparat termasuk rakyat sangat kohesif dengan kondisi spirituil masing-masing pribadi. Artinya semakin baik spirituil seseorang maka semakin integritaslah orang itu.
Gaya kepemimpinan CS mengingatkan saya tentang kitab Yeremia (Yer 8:13 dan Yer 9:3). Yeremia sebagai pemimpin sangat sadar dan peka terhadap realita sosial politik di masanya. Sebagai pemimpin Yeremia tidak bisa menutup mata atas penderitaan umatnya, atas keputusasaan rakyatnya. Sehingga dia harus membangun kembali hubungan umatnya dengan Tuhan untuk kembali intim. Ya, CS memang Walikota yang sangat mengandalkan Tuhan, dan sangat paham dengan kitab Yeremia 29:7..”Usahakanlah kesejahteraan Kota kemana kamu akan Aku buang dan berdoalah untuk Kota itu kepada Tuhan, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu..”
Dan kitab Ulangan 28: 3-13…”berkatilah kamu di Kota dan mendoronglah kamu diladang….”

Sekali lagi bagi saya pemimpin yang takut Tuhan dan mengandalkan Tuhan adalah pemimpin yang SANGAT mencintai rakyatnya, sadar akan tanggung jawabnya dan pasti berhasil membawah rakyatnya pada tujuan luhur Pancasila, masyarakat adil dan makmur.

Karena tulisan ini adalah kesaksian, maka tentu saja bersifat subjektif dalam menyaring tetapi objektif dalam penilaiannya. Ya, CS sangat layak melanjutkan kepemimpinannya sebagai Walikota Tomohon hingga tahun 2029 nanti. Tentunya setiap orang / rakyat di Kota Tomohon memiliki persepsi yang berbeda tentang eksistensi CS yang bisa dituangkan dalam sebuah testimoni. Silahkan dituangkan dalam bentuk apa saja..yang perlu diingat “kebenaran adalah kebenaran, kebenaran akan selalu menang melawan kebatilan..sekalipun kebenaran harus duperjuangkan dalam ketulusan..”
Selamat melanjutkan…… merdeka..!

(rk/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *