SULUTTEMPO.COM – HJP menyatakan bahwa food loss and waste terjadi di restoran, kantin, dan rumah tangga, dengan menyoroti bahwa fenomena ini harus dikampanyekan melalui influencer. Namun, pandangan tersebut menyederhanakan masalah yang lebih luas dan kompleks.
Food loss dan food waste bukan sekadar tentang sisa makanan di piring atau limbah dari dapur restoran. Food loss lebih mengacu pada hilangnya bahan pangan sebelum sampai ke tangan konsumen, terutama di tahap produksi, panen, dan distribusi—sering kali disebabkan oleh faktor seperti kegagalan budidaya, panen yang buruk, atau perubahan iklim. Sementara itu, food waste lebih merujuk pada pembuangan makanan yang sudah mencapai konsumen akhir, baik di rumah tangga maupun di sektor penyajian makanan seperti restoran.
Jenderal ADT dalam tanggapannya memberikan perspektif yang lebih lengkap, Dia menyadari bahwa meskipun food loss and waste adalah isu penting, di bawah kepemimpinan ODSK (Olly Dondokambey dan Steven Kandouw), Sulawesi Utara tidak mengalami kekurangan pangan. Fokus mereka adalah menyiapkan bibit unggul dalam sektor pertanian, yang menunjukkan perhatian terhadap produksi pangan sejak tahap awal, bukan hanya memikirkan soal limbah di hilir.
Pandangan Jenderal ADT tersebut menunjukkan pemahaman yang mendalam bahwa solusi atas food loss bukan hanya mengurangi sisa makanan di restoran, melainkan memastikan sistem pangan yang tangguh dan adaptif, mulai dari bibit unggul hingga mitigasi terhadap perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen.
Dengan demikian, koreksi Jenderal bahwa food loss juga mencakup kegagalan panen, kesalahan distribusi, dan tantangan di sektor agrikultur memperlihatkan bahwa HJP memiliki pandangan yang terlalu sempit. Kampanye yang hanya berfokus pada sisa makanan di kantin dan restoran tidak akan menyelesaikan masalah pangan yang lebih luas. (rk)
#SKADTMenang





