SULUTTEMPO.COM – Ada pemimpin yang meninggalkan jejak melalui angka dan deretan proyek. Ada pula yang dikenang melalui cara ia bekerja, membangun komunikasi, dan menanamkan nilai yang terus hidup setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Sembilan tahun perjalanan Olly Dondokambey memimpin Sulawesi Utara, 2016–2025, kini dirangkum dalam sebuah buku bertajuk “Menjaga Nyiur Tetap Melambai, Legacy Sang Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, 2016–2025.”
Buku setebal 168 halaman itu resmi diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kompleks Gedung Kompas-Gramedia, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Bukan sekadar kumpulan dokumentasi, buku tersebut mencoba membaca kembali perjalanan kepemimpinan Olly melalui berbagai sisi pembangunan dan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.
Lima bab disusun untuk menggambarkan perjalanan tersebut. Bab pertama menempatkan Sulawesi Utara sebagai “Pintu Gerbang” Pasifik, menggambarkan posisi strategis provinsi di kawasan timur Indonesia. Bab kedua bergerak pada pembangunan infrastruktur, pariwisata, dan tenaga kerja.
Bab ketiga membawa pembaca pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: kemiskinan, program “Bakobong”, hingga penanganan masyarakat terdampak erupsi Gunung Ruang. Sementara bab keempat mengangkat sesuatu yang tidak selalu dapat diukur dengan angka, tetapi menjadi bagian penting dari identitas Sulawesi Utara: budaya dan spirit toleransi.
Kemudian, bab kelima yang diberi judul “Apa Kata Mereka” menghadirkan pandangan sejumlah tokoh nasional dan lokal mengenai sosok serta kepemimpinan Olly Dondokambey.
Peluncuran buku diawali pemutaran video dokumenter tentang perjalanan hidup Olly Dondokambey, yang juga dikenal sebagai Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara.
Setelah itu, Ketua DPR RI periode 2024–2029 sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Politik, Puan Maharani, menyampaikan sambutan.
Bagi Puan, judul buku tersebut memiliki kedekatan dengan karakter Olly. Nyiur yang terus melambai, menurutnya, seperti menggambarkan sosok yang tidak berhenti bergerak dan terus beraktivitas.
“Saya melihat judul bukunya Menjaga Nyiur Tetap Melambai, ya itu cocok sebenarnya dengan Pak Olly,” ujar dia.
Puan bahkan menyinggung kebiasaan Olly yang tetap aktif dalam berbagai kegiatan sehari-hari.
“Sebentar-sebentar kirim foto lagi mengupas kelapa, lagi mengambil semangka, lagi mengambil ikan mas,” ujarnya.
Di balik candaan itu, Puan menyampaikan pesan yang lebih dalam. Kehidupan, menurutnya, tidak boleh berhenti pada satu pencapaian.
“Intinya hidup itu tidak boleh berhenti, harus selalu bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Kalimat tersebut seolah menjadi benang merah dari judul buku itu sendiri. Nyiur tetap melambai, bergerak mengikuti angin, tetapi tetap berdiri di tempatnya.
Sesi peluncuran kemudian dilanjutkan dengan bedah buku yang menghadirkan Profesor Emeritus Hukum Tata Negara Universitas Borobudur sekaligus mantan Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Anggota Mahkamah Konstitusi periode 2015–2018, Arief Hidayat, serta wartawan senior Harian Kompas, Josef Osdar.
Arief melihat kepemimpinan Olly tidak semata-mata dapat dibaca melalui pembangunan fisik. Ia menilai terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan tersebut dengan gagasan Founding Father Soekarno, termasuk dalam konteks Pancasila serta visi, misi, dan tujuan PDI Perjuangan.
Menurut Arief, legacy Olly dapat dibaca dalam dua dimensi: sesuatu yang terlihat dalam jangka pendek dan warisan yang terus hidup dalam jangka panjang.
Pembangunan fisik, sarana, dan prasarana menjadi bagian dari legacy jangka pendek. Salah satunya adalah pembangunan jalan tol pertama di Sulawesi.
Namun, menurut Arief, ada pula warisan yang sifatnya timeless tidak dibatasi oleh masa jabatan. Salah satunya adalah toleransi.
Nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar Sulawesi Utara dapat terus bergerak maju tanpa kehilangan karakter sosial dan budayanya.
Arief juga menyinggung upaya pengembangan ekonomi kerakyatan yang berpihak kepada masyarakat kecil serta konsistensi menjaga garis ideologi Pancasila.
“Legacy yang selanjutnya adalah mengembangkan ekonomi kerakyatan yang berpihak kepada kaum marhaen. Kemudian legacy yang menjadikan monumental adalah menjaga garis ideologi yang jelas dengan menjaga Pancasila,” ujarnya.
Jika Arief berbicara mengenai legacy dalam perspektif kepemimpinan dan pembangunan, Josef Osdar justru menyoroti sisi lain yang lebih personal: cara Olly menyelesaikan persoalan.
Bagi Osdar, Olly bukan tipe pemimpin yang gemar berbicara panjang lebar di depan publik.
Ia menggambarkan Olly sebagai sosok yang lebih banyak bekerja di balik layar. Dalam sejumlah persoalan, termasuk pengembangan pariwisata Sulawesi Utara dan mendorong Likupang menjadi destinasi pariwisata prioritas, Osdar melihat pola yang sama. Yaitu tidak banyak bicara, tetapi hasilnya terlihat.
“Pak Olly nggak benar-benar bercerita, nggak pernah ngomong, cuma ketawa, tapi terjadi,” kata Osdar.
Bagi Osdar, sikap tersebut bukan berarti tanpa komunikasi. Justru komunikasi dilakukan melalui pendekatan personal, negosiasi, dan kerja-kerja yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Di situlah ia melihat salah satu kekuatan Olly. Kemampuan membangun hubungan dan meyakinkan orang lain tanpa harus selalu tampil sebagai sosok yang paling banyak berbicara.
Olly bahkan disebut sebagai sosok “perayu”, bukan dalam arti negatif, melainkan seseorang yang mampu membujuk, membangun komunikasi, dan membuat orang lain bersedia mengikuti sebuah gagasan.
Kemampuan negosiasi tersebut, kata Osdar, juga pernah diakui oleh Fahri Hamzah yang menilai Olly sebagai seorang negosiator yang baik.
Pada akhirnya, “Menjaga Nyiur Tetap Melambai” bukan hanya berbicara tentang sembilan tahun masa pemerintahan.
Buku itu mencoba menempatkan perjalanan Olly Dondokambey dalam ruang yang lebih panjang: apa yang dibangun, apa yang diwariskan, dan apa yang mungkin tetap hidup setelah seorang pemimpin meninggalkan kursi kekuasaan.
Sebab pembangunan dapat dihitung melalui kilometer jalan, jumlah infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau destinasi wisata yang berkembang.
Tetapi legacy tidak selalu sesederhana angka.
Ada toleransi yang terus dijaga. Ada keberanian membuka pintu Sulawesi Utara ke kawasan Pasifik. Ada ekonomi rakyat yang terus diperjuangkan.
Ada cara berkomunikasi dan bernegosiasi yang meninggalkan kesan. Dan seperti nyiur yang terus melambai di tanah Sulawesi Utara, kepemimpinan pun pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang pernah berdiri di pucuk pemerintahan, tetapi tentang apa yang tetap bergerak dan tumbuh setelahnya. Nyiur boleh terus diterpa angin. Namun selama akarnya tetap kuat, ia akan tetap melambai. (rk/*)





